THOUSANDS OF FREE BLOGGER TEMPLATES �

Thursday, October 1, 2009

Apa yang diinginkan konsumen pria?

Sebenernya apaan sih yang di butuhkan pria?
Menurut saya pria itu lebih kepada sesuatu yang dia butuhkan.Misalnya butuh hp nokia,ya yang dibeli nokia.Karna pria cenderung straight to the point.Dan mereka lebih melihat barang kepada fungsinya dan seberapa besar kebutuhan akan barang tersebut.Dan cenderung simple.
Kalau dari segi produk biasanya mereka cenderung ke gadget,otomotif ,sepatu dan jam tangan.
Dari segi brand biasanya mereka cenderung fanatik sama 1 brand,ya walaupun tidak semua seperti ini,tapi kebanyakan iya.Buat mereka brand bisa jadi semacam harga diri,reputasi,dan ya mungkin semacam tingkat pergaulan tertentu.Dan mereka tidak tanggung-tanggung untuk mengeluarkan budget besar untuk membelinya supaya bisa mendapatkan tempat(kekuasaan) di lingkungannya.


Person making decisions page 150

Economic needs

-Dependability(ketergantungan):Di dalam film ini di perlihatkan bagaimana seseorang begitu ketergantungan-nya dengan creditcard.

-Convenience(kenyamanan):Karna creditcard sudah overlimit maka kenyamanan seseorang-pun terganggu.Karna apabila tidak segera membayarkannya,maka akan di datangi oleh debtcollector.

-Efisiensi:Creditcard membuat hidup seseorang menjadi lebih efisien(singkat).Bisa kita lihat dari film ini,betapa mudahnya seorang gila belanja menggesekan creditcard-nya.Walaupun dia tidak terlalu membutuhkan barang tersebut.Dengan prosesnya yang tidak makan waktu lama,dan dalam sekejab anda sudah dapat memiliki barang tersebut.Tidak kah kalian perhatikan betapa singkatnya hidup manusia sekarang ini?

-Economy of purchase:Terlalu besar pengeluaran daripada pendapatan menyebabkan Rebecca harus menghindar dari debtcollector.Hasrat untuk berbelanja lebih kuat daripada untuk menahan diri.


Psychological variables

-Motivation:Seorang shop-a-holic terobsesi dengan adanya barang baru yang menurut dia lucu dan menarik.Ditambah dengan adanya iming-iming diskon harga,hal ini yang memotivasi seorang shop-a-holic untuk terus...terus..dan terus berbelanja.

-Attitude: Perilaku Rebecca di sini adalah tidak dapat mengontrol diri untuk tidak berbelanja barang-barang yang sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan.

-Life style:Gaya hidup Rebecca adalah tergolong mewah.Bisa kalian lihat dari merk-merk barang yang dia beli.


Social influences

-Family:Sebenarnya kalau kita perhatikan,keluarga Rebecca hidup cukup sederhana.Bahkan orang tua dia menabung selama hidupnya untuk membeli semacam van.

-References group:Bila kita perhatikan sebenarnya lingkungan Rebecca tidak menyukai belanja.

-Social class:Dalam film ini,sang pemeran masuk kedalam kelas menengah ke atas.Karna orang-orang yang dapat membeli barang ber-merk biasanya mempunyai budget yang cukup besar.


Purchase situation

-Purchase reason:Alasan dia membeli sebenarnya karna adanya hasrat dalam diri dia yang mengatakan kalau anda mempunyai/memakai barang ini maka anda terlihat lebih cantik.
Dengan demikian dia berpikir,selama dia menggunakan barang ber-merk maka dia akan terlihat lebih 'wah'

-Time:Sejak dia mempunyai creditcard sendiri,dia mulai tidak dapat mengontrol dirinya.

-Surrounding:Lingkungan sekitar dia secara tidak langsung memberikan pengaruh ke hidup dia.Toko-toko yang sering ia lewati,belum lagi majalah-majalah fashion yang secara tidak langsung memaksa wanita untuk membelinya,walaupun belum tentu di pakai.

Consumer Behavior in Shopaholic Movie

Minggu ini gue disuruh nonton fil shopaholic. Udah pernah nonton belum?
Sebenernya Shopaholic adalah salah satu judul novel karangan Sophie K. yang diangkat menjadi film.

Film shopaholic ini menceritakan tentang seorang cewe bernama Rebecca yang kecanduan berbelanja. Mulai dari baju, gaun, sepatu hingga aksesoris.
Disini kita dapat melihat proses sang shopaholic ini menyelesaikan masalah kecanduannya hingga pada akhirnya ia menemukan kebahagian sejati :)

Nah, berdasarkan film yang gue tonton tersebut, gue mau menyangkutkannya dengan Consumer Behaviour yang udah gue pelajari di marketing


Berikut ini mengenai Consumer Behaviour:
1. Economic needs
Economy of purchase : Pada cerita ini, sang pemeran utama yakni Rebecca mengeluarkan sejumlah biaya yang dapat dikatakan lebih banyak daripada yang diterimanya. Ia tidak mampu membeli tetapi ia memaksa untuk membelinya.
Convenience(kenyamanan) : Akibat dari dia memaksa untuk membeli sesuatu yang tidak dapat terjangkau olehnya, maka ia memakai beberapa kartu kredit. Oleh karena kartu kredit tersebut, utang yang ia miliki semakin menumpuk dan mengancam kehidupannya. Ia selalu dikejar oleh debt collector sehingga tidak dapat hidup dengan tenang.
Dependability(ketergantungan) : Walaupun sudah terancam oleh debt collector, kebergantungan Rebbeca terhadap kegiatan belanja barang - barang mahal dan yang disukainya tidak dapat dicegah.
Efficiency : Semua belanjaan yang telah dibelanjakan oleh Rebbeca, mnurut saya tidak terlalu efisien. Karena ia hanya membeli berdasarkan keinginan sesaat saya ( want ) tetapi dalam kenyataanya, ia tidak terlalu perlu barang tersebut ( need )

2. Psychological variables.
Motivation : Pada awalnya, sewaktu Rebecca masih kecil, ia melihat wanita dewasa berbelanja dengan riang gembira dan seperti seorang putri. Wanita yang dilihatnya memiliki kartu kredit yang ia katakan sebagai "magic card". Sedangkan saat itu, ia tidak dapat membeli semua yang ia inginkan, sehingga keinginannya itu terlampiaskan di saat ia dewasa.
Attitude : Perilaku Rebecca seperto seseorang pecandu narkoba, ia sangat kalap kalau sedang berbelanja dan melakukan segala cara untuk mendapatkan segala yang ia inginkan
Life style : Pada dasarnya kehidupan Rebecca biasa saja, tetapi semenjak shopaholic itu menggrogoti dirinya, ia tidak bisa bertahan. Ia selalu menginginkan kehidupan yang gemerlap dan glamour.

3. Social influences.
Family : Rebbeca sebenarnya berasal dari keluarga yang baik - baik. Kedua orang tuanya adalah orang berkecukupan dan tidak terlalu bergaya hidup mewah.
References group : Rebecca di dalam kehidupan pribadinya dikelilingi oleh orang yang baik dan ramah. Hanya saja di dalam kehidupan kerjanya, ia dikelilingi orang yang berkelas dan bergaya hidup mewah.
Social class : Bila dilihat dari sisi financial, Rebecca termasuk kalangan menengah. Tidak kaya juga tidak miskin. Hanya saja dengan gaya hidupnya Rebecca yang selalu glamour memperlihatkan seolah - olah ia adalah kalangan atas.
Culture : Kebudayaan orang barat yang senang berbelanja dan sangat mengikuti fashion ini juga mungkin mempengaruhi sang pemeran utama.

4. Purchase situation.
Purchase reason : Selain untuk memenuhi motivasi ia sewaktu masih kecil, ia juga selalu senang belanja karena keinginannya untuk bekerja di majalah fashion terkemuka ALLETHE. Sehingga timbul tuntutan untuk dirinya agar berpenampilan fashionable.
Time : Didorong oleh masa kecil dimana ia tidak memperoleh yang ia inginkan, maka pada saat dewasa ia mulai mewujudkan keinginannya.
Surrounding : Rebecca hidup di dua lingkungan. Lingkungan pertama ia dikelilingi orang - orang yang baik dan peduli dengan dirinya, mereka membantu Rebecca lepas dari kecanduannya. Lingkungan kedua adalah lingkungan kalangan atas yang menuntut Rebecca juga bersaing dengan mereka dengan jalan bergaya hidup mewah, belanja barang bermerk, dan juga bersaing dalam pekerjaan.

Yup, segitu aja apa yang gue tangkap mengenai consumer behavior dari film ini. Kalau menurut kalian gimana ? :)

Confessions of a Shopaholic and “What Men Want” (Syane)

Confessions of a Shopaholic


Dalam film tersebut,terlihat bahwa wanita identik dalam hal memuaskan keinginan dalam memenuhi kebutuhan yang sebenarnya kebutuhan tersebut bukanlah kebutuhan pokok atau sesuatu yang harus dibeli dalam kebutuhan hidup mereka. Hal tersebut saya kaitkan dengan person making decisions yang terdiri dari 4 bagian, yaitu :

1. Economic needs yang berarti beberapa konsumen kadang membeli barang jika terjadi lowest price atau adanya diskon yang diberikan, tetapi ada juga konsumen yang berani membeli suatu barang dengan harga yang relatif mahal demi mendapatkan barang tersebut dengan mudah atau efisien, dan ada yang melihat dari sisi kualitas barangnya. Economic needs dapat dilihat tergantung dari sisi konsumennya. Menurut saya, wanita dalam film tersebut lebih mengutamakan sisi economic needs ke arah dependability karena wanita tersebut membeli suatu barang bukan karena ingin efisien tapi karena ketergantungan akan membeli barang tersebut untuk memuaskan dirinya dalam memenuhi kebutuhan itu dan juga wanita itu ingin mendapatkan suatu barang jika adanya diskon yang diberikan dengan kualitas yang yang sangat bagus (merk terkenal).

2. Psychological variables yang berarti seseorang termotivasi dari apa yang di butuhkan dan apa yang diinginkan. Dari kata tersebut, saya berpendapat bahwa wanita dalam film Confessions of a Shopaholic lebih kepada personal needs, karena wanita tersebut hanya memikirkan tentang kesenangan yang didapat, freedom, dan relaxation. Wanita tersebut tidak memikirkan ke hal security,karena dia berani menggunakan card credit hingga batas limit dan berhutang melebihi kapasitasnya.

3. Social Influences, maksudnya adalah pengaruh dari banyak aspek mengenai bagaimana sikap konsumen dalam mengambil keputusan. Aspek tersebut bisa dari keluarga, social class, maupun budaya. Film tersebut lebih mengarah pada social class dan budaya, karena wanita tersebut membeli barang dengan melihat tingkat kelas atau memilih merk-merk terkenal seperti prada, gucci, dan lainnya yang berada pada high level. Dari culture, semua barang yang diinginkan wanita tersebut, dengan melihat sisi trendy atau mengikuti mode fashion dalam culture di negaranya.

4. Purchase Situation, berarti melihat suatu keadaan ketika akan membeli barang yang diinginkan. Purchase situation dalam film tersebut lebih mengarah pada time influences karena wanita tersebut berbelanja hanya untuk shopping bukan keperluan bagi kebutuhan pokoknya.


“What Men Want”

Dari film tersebut, saya berpendapat bahwa laki-laki memiliki kebutuhan utama bukan berbelanja tetapi mereka lebih memprioritas pada kebutuhan untuk mendapatkan suatu pekerjaan yang sangat baik dan berkumpul dengan teman-teman, serta prioritas dalam hal wanita. Tetapi, keinginan tersebut tergantung dari sosok laki-laki tersebut. Jika laki-laki tersebut lebih menyukai hal-hal yang berbau otomotif, musik, olahraga, maka yang menjadi prioritas mereka bukanlah ketiga hal diatas tetapi lebih pada membeli hal yang berhubungan dengan otomotif, alat musik, ataupun lebih menginginkan kepuasan pada tingkat prestasi dibidang olahraga. Keinginan laki-laki menurut saya tidak semua sama, semua tergantung dari masing-masing pribadinya.
( Syane Anggraini Lussa)

Oh Man...

Sebenarnya apa yaa yang cowo mau???


nggak muluk-muluk sih, tapi mahal bangett! padahal barangnya simple banget dan biasa aja.biasanya cowo itu kalau membeli barang untuk kebutuhannya bukan keinginan sesaat. seperti baju, tas, sepatu

contohnya :
1. Automotive
biasanya para cowo menyukai barang-barang yang seperti itu untuk memperindah kendaraannya.

2. cewe
biasanya cowo suka ngeliat cewe cantik (enak diliat) dan baik terutama, dan biasanya cowo itu melihat pertama kali cewe dari penampilannya. apakah cewe itu seksi atau nggak. dan cowo itu bisa bersaing karena masalah cewe.

3. barang simple
cowo nggak suka barang yang heboh dan norak. cowo itu lebih suka yang simple dan nggak ramai. padahal barang - barang yang kayak gitu harganya mahal banget dan biasanya barang bermerk. contoh : papa saya lebih memilih membeli batik yang nyaman atau enak dipakai seperti batik keris dan sebagainya padahal barang itu mahal tetapi karena kenyamanan lebih dipioritaskan maka beliau memilih itu dibanding batik yang ada di emperan yang nggak jelas.

4. Gadget / Barang Elektronik
cowo suka barang elektronik seperti handphone, ipod, laptop, playstation, BB, dan lain-lain. Mereka suka mengikuti perkembangan jaman dan mengganti gadget yang mereka miliki supaya tetap up to date.

jadi, cowo itu keinginannya simple, mahal, up to date, dan tergantung apa yang disukainya :)

Novianti
Management
08130110045

A Model of Influences on Consumer Behavior ( Shopaholic )

Purchase situation.
Purchase reason: untuk dikoleksi saja dan karena ada diskon sehingga dia membeli banyak barang.
Time: karena waktu kecil tidak dipenuhi keinginannya, maka sewaktu dewasa ia ingin memenuhi dan membeli semuanya.
Surrounding: di lingkungannya tidak sama seperti apa yang dilakukan Rebecca

Psychological variables.
Motivation: Rebecca termotivasi karena ingin bekerja di majalah ALLETE(aduh bu saya lupa nulisnya gimana.hehe.), jadi dia ingin membeli barang dengan kualitas yang tinggi
Attitude: semua barang yang Rebecca inginkan pasti di beli dengan cara apapun.
Life style: Glamour dan fashionable.

Economic needs.
Dependability(ketergantungan): pemain utama yang bernama Rebecca ketergantungan dengan kartu kredit dan barang-barang yang bermerek.
Convenience(kenyamanan): Rebecca merasa tidak nyaman dengan dikejar-kejar oleh penagih utang karena dia tidak mampu membayar semua utang yang dia pinjam dan dia merasa karirnya terancam.
Efisiensi: menurut saya tidak efisien karena Rebecca membeli semua barang itu hanya untuk kesenangan saja atau keinginan sesaat bukan kebutuhan utamanya.
Economy of purchase: besar pasak daripada tiang, besar pengeluaran daripada pendapatan.

Social influences.
Family: dari keluarga baik-baik, tetapi pelit dan keluarganya kurang menyukai belanja, berbanding terbalik dengan anaknya.
References group: berkumpul dengan orang-orang yang tidak suka berbelanja.
Social class: menengah, tetapi Rebecca inginnya barang yang berkelas atas.

Novianti
Management
08130110045

Keunikan Wanita

Perilaku wanita dalam berbelanja memang tidak bisa ditebak. Berbelanja merupakan kesenangan tersendiri bagi kaum wanita. Mereka rela menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk memilih barang-barang yang akan mereka beli, lalu mereka pun rela menghabiskan uang yang jumlahnya tidak sedikit untuk memenuhi hasrat mereka memiliki barang-barang tersebut.

Namun terkadang hasrat kam wanita dalam berbelanja terlalu berlebihan. Mereka mulai membeli barang-barang yang sebetulnya tidak mereka butuhkan. Motivasi mereka dalam membeli barang sudah mulai bergeser. Awalnya mereka membeli apa yang mereka butuhkan, namun seiring perkembangan zaman dan perkembangan tren fashion, akhirnya mereka pun membeli barang-barang untuk mengikuti tren fashion tersebut.

Berdasarkan keempat faktor dalam seseorang mengambil keputusan (economic needs, psychological variables, social influences, dan purchase situation), pada zaman sekarang ini faktor psychological dan social influences lebih berperan dalam diri seseorang dalam memutuskan akan membeli barang atau tidak. Seperti yang terlihat dalam film Confessions of a Shopaholic, di dalam film itu diceritakan seorang gadis yang tergila-gila dengan barang-barang bermerek. Walaupun ia tidak membutuhkan barang tersebut, tetapi ia akan rela membeli barang tersebut sampai-sampai seluruh kartu kreditnya menyentuh limit dan ia tidak mampu membayarnya. Di film ini terlihat betapa orientasi berpikir gadis tersebut sudah melenceng jauh. Membeli suatu barang bukan karena fungsi dasar akan produk tersebut, melainkan karena gengsi yang akan ia dapatkan ketika menggunakan barang tersebut.

Merek-merek terkenal seperti Gucci, Prada, Louis Vuitton, dan sebagainya memang sangat hebat dalam menciptakan image yang kuat di pasaran. Mereka mengerti apa yang kaum wanita butuhkan. Para pemakai merek-merek tersebut akan merasakan sesuatu yang berbeda, sesuatu yang akan membuat mereka merasa percaya diri, merasa bangga, merasa eksklusif, dan sebagainya yang akan membuat diri mereka terasa spesial.

Kaum wanita memang unik. Di balik kelemahlembutan mereka, tersimpan sejuta misteri dalam diri mereka. Misteri yang sulit untuk diungkapkan karena kaum wanita sulit untuk mengungkapkannya secara langsung, kaum pria lah yang seharusnya lebih peka untuk mengerti kaum wanita. Di dalam film What Women Wants, terlihat jelas bahwa pria lebih sering bertindak yang tidak sesuai dengan apa yang wanita inginkan. Ini terbukti pada saat Nick Marshall belum bisa mengetahui apa yang wanita pikirkan dan setelah ia bisa. Semua kelakuan yang telah sering ia lakukan ternyata banyak yang tidak berkenan di hati para wanita.
Pada dasarnya, keinginan wanita hanyalah satu, yaitu perhatian. Apabila pada dasarnya sudah ada perhatian dari kaum pria terhadap kaum wanita, hal-hal lainnya seperti kasih sayang, cinta kasih, atau bahkan materi pun akan berjalan dengan sendirinya. (GLEN REINNER)